[Cerpen] Bayangan di Sudut Ruangan
Bayangan Disudut Ruangan
Ditengah
gelapnya malam, terlihat seseorang yang sedang mengawasi. Zia, gadis berusia 16
tahun itu terlihat gusar dalam tidurnya. Sosok bayangan itu selalu ada di sana. Mengawasi Zia setiap
malam. Tidak hanya mengawasi. terkadang Zia merasa bayangan tersebut semakin
mendekat, membisikkan kata kata yang membuat tidurnya terasa berat. Seakan akan
ada sesuatu yang menindihinya, bahkan seskali mencekiknya. Membuat Zia tak bisa
bernafas untuk beberapa saat.
“Pa..ppa..”, suara Zia terdengar
tertahan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
“Eegh, enghh..”, erangan kecil Zia
mengisyaratkan rasa sakit, dan ‘ceklek’, suara orang membuka pintu menyadarkan
Zia dari tidur singkatnya. Ditekannya lampu jam weker yang menunjukkan pukul
00.05.
“Papa!”, sosok yang dipanggil ‘Papa’
itu mendekat dan memeluk Zia yang sudah terduduk di atas ranjangnya
“kau
bermimpi buruk lagi?”
“Tidak.
aku tindihan. Pa, bisakah kau temani aku di sini? Aku merasa bayangan itu
selalu mengawasiku.. ”
“Tidak
Zia, kau sudah besar. Apa harus Papa mendatangimu setiap malam? Berhentilah
berkhayal yang tidak tidak!”.
“Pa..”
“Tidurlah,
Papa akan memberitahu Mama supaya menemanimu malam ini”.
“Tidak”,
Zia menggeleng kuat.
“kau
jangan memulai pertengkaran Zia.. sudah 10 tahun Papa menikah dengannya. Apa
kau masih belum bisa menerimanya sebagai Mamamu? Papa lihat kau sudah akrab 2
tahun terakhir. Tapi mengapa kau kembali seprti ini?”
Zia menelan air ludahnya. Semua yang
dikatakan Papanya benar. Kecuali bagian ia masih belum bisa menerima wanita itu
sebagai Mamanya. Sudah sejak lama Zia menganggap wanita itu sebagai Mamanya.
Hanya saja Zia malu mengatakannya. Dan soal Zia berubah sikap belakangan ini,
itu karena ia melihat suatu kenyataan yang sepertinya tidak dilihat oleh
Papanya.
“Sudah. Tidurlah kembali”, dielus
dan dicium puncak kepala Zia, sebelum kemudian Papanya keluar dari kamar.
Zia menarik kembali selimutnya,
membiarkan tubuhnya tenggelam seluruhnya didalam selimut. Detak jantungnya tak
beraturan. kealanya dipenuhi dengan sosok bayangan yang sering terlihat di
sudut kamarnya. Sepertinya ia tak bisa tidur malam ini, begitu pula malam-malam
sebelumnya.
Sosok bayangan itu masih berada di
sana. Memperhatikan Zia didalam selimut. Zia beberapa kali merubah posisi
tidurnya. Matanya terpejam, namun alam mimpi tak kunjung menjemputnya. Ia
memang tak berharap bisa bermimpi akhir-akhir ini. Karena mimpi yang datang
hanya memperburuk kualitas tidurnya. Ia hanya berharap supaya fajar segera
terbit dan mengusir sosok bayangan di sudut kamarnya.
Pagi ini Zia turun dari ranjangnya
pukul 05.30. kepalanya terasa berat, mengingat ia baru tidur dua jam sebelum
ini. Zia menoleh ke arah sudut ruangan tempat sosok bayang biasanya berada.
Kosong. Hanya ada meja rias dengan cermin berukuran besar disebelahnya. Dalam
hati ia berharap jika bayangan itu memang hanya khayalan saja, seperti yang
dikatakn oleh Papanya. Zia memijat pelipisnya pelan, lalu bergegas menuju kamar
mandi.
Selesai mandi Zia langsung menuju
ruang makan. Di sana sudah terlihat Papanya yang sedang memulai sarapan. Zia
menarik kursi dimeja makan dan duduk dihadapan Papanya.
Sang Papa memperhatikan Zia yang
berada didepannya. Zia terlihat semakin kurus, matanya berkantung, dengan
lingkaran hitam disekitarnya.
“Zi,
sepulang sekolah nanti Papa dan Mama akan mengantarmu ke Psikiater”, Papa
memulai percakapan.
“He?
Apa Pa? Psikiater?”, Pernyataan Papanya tiu membuat Zia sedikit terkekeh.
“Zi, sudah dua
minggu kau seperti ini. Setiap malam bangun karena mimpi buruk, tindihan dan
juga khayalan soal bayangan yang selalu mengawasimu. Kau juga mengacuhkan
Mamamu, membentak dan selalu emosi dengan semua yang Papa katakan perihal
Mama”.
“Aku tidak
tidak butuh Psikiater Pa. Kau yang membutuhkannya”, Zia menghentikan makannya
dan menatap Papanya nanar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggeleng pelan.
“lihat Pa,
keadaanmu jauh lebih buruk dari Zia”
Zia melanjutkan
perkataanya, ”Zia tahu Papa sering tidak tidur karena membicarakan Zia dengan
Mama.. Pa, maafkan Zia, kalau Zia sering menolak perintah Papa. Perintah untuk
berpamitan dengan Mama, tidur dengan Mama dan juga perintah-perintah Papa yang
lainnya”, Papa Zia masih mendengarkan dengan tangan dilipat didada. Ekspresi
wajahnya datar, dan beliau tak menjawab dengan sepatah katapun.
“Papa.. Zia
sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya pada Papa. Zia sangat
sangat menyayangi Papa, juga Mama. Tapi sadarlah Pa. Sadarlah jika Mama.. Mama,
Ia sudah tiada
sejak tiga minggu yang lalu”. Suara Zia tercekat karena ia semakin terisak.
Bayangan peristiwa kecelakaan yang menewaskan Mamanya tergambar begitu jelas
saat ini. Sedang sosok yang sedari tadi dipanggil ‘Papa’ hanya menatap lurus
dengan pandangan kosong.
Betul apa kata orang dahulu. Relakan
orang yang sudah pergi. Jangan kau tahan mereka dipikranmu. Bukan mereka saja
yang berhak merasakan ketenangan, tapi begitu juga dengan pikiran dan hatimu. Jangan
sesakkan ia dengan bayang-bayang keberadaannya. Karena itu bisa jadi membuuat
Orang yang telah tiada benar benar akan mengawasimu. Seperti sosok bayang
wanita disudut ruang makan yang sedari tadi memperhatikan Zia dengan Papanya.
Komentar
Posting Komentar