Dukung Aku [Cerpen]

           

Dukung Aku


Minggu lalu seorang ustadzah memberiku tugas untuk menuliskan sebuah cerita. Cerita tentang awal prjalananku berada di Ma’had ini. Namun siapalah aku? Aku hanya bocah yang belum banyak mengerti. Sampai tugas membuat cerita tentang diriku sendiripun aku merasa tak mampu. Dan inilah yang kulakukan sekarang, duduk termenung sambil memandangi kertas tugasku yang masih saja kosong sejak enam hari lalu. Berkali-kali aku mencoba menulis segala yang terlintas dipikiranku, namun fikiran tentang hafalan yang esok pagi harus ku setorkan membuatku semakin tak tahu harus menulisa apa..
           “cletak”, perlahan kuletakkan penaku diatas meja. menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya perlahan. Melihat sekeliling untuk mencari sebuah gagasan, bertanya kepada setiap orang yang berlalu lalang soal apa yang bisa kutulis, namun aku hanya menerima jawaban sebuah senyuman.  tiba-tiba pandanganku tertuju pada “sesuatu” yang sedang tergeletak diatas lantai. Diam dan tak bergerak. “sesuatu” itu menarik perhatianku, dan tanpa sadar diriku terbawa mendekat pada “sesuatu” itu
           Terbyata “sesuatu” oyu adalah seekor capung! Capung yang malang.. apakah ia mati? Mengapa ia diam saja dan tak terbang? Apakah ia sendiri? Sejenak melihat capung itu membuatku teringat pada ucapan salah seorang teman “sekuat apapun dirimu dan seberapa mampu dirimu, takkan bertahan jika kau berjalan seorang diri. Kau membutuhkan orang lain. Meski hanya dengan dukungan kecil”.
           Kuulurkan jariku dan perlahan kusentuh salah satu sisi sayapnya. “ddrrrrtt”, sayap capung itu bergetar. Ia masih hidup! Kuletakkan ia diatas telapak tanganku. Sayapnya terus bergetas sampai membuat jari-jariku merasa geli. Sampai beberapa detik kemudian capung itu terbang, lantas menari diatas langit-langit asrama
           Aku megerti, mungkin ini bisa disebut dengan dukungan kecil. Capung itu kembali bergerak setelah aku memberikannya sedikit belaian. Sebaliknya, lewat capung tersebut aku merasa terinpirasi, sehingga kertas yang sejak enam hari lalu muali terisi dengan sederetan tulisan yang berjajar.
           Entah, cerita ini berarti bagi orang lain ataupun tidak. Bagiku daei sini aku mengerti bahwa kita sebagai makhliq hidup harus saling mendukung. Karena kebanyakan orang hanya tahu bagaimana cara menyalahkan, menuntun dan memberitahu. Tapi mereka tidak megetahui bagaimana cara mendukung.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Bayangan di Sudut Ruangan